Harapan pemilik wajah pas-pasan untuk memperbaiki keturunannya agar punya wajah rupawan kini bisa jadi kenyataan. Sebuah situs khusus pemilik wajah rupawan menyediakan sperma dan sel telur yang bisa dipesan oleh siapapun yang mendambakan anak setampan Brad Pitt atau secantik Angelina Jolie.
Robert Hintze, pendiri BeautifulPeople.com mengatakan bahwa siapapun termasuk pemilik wajah jelek berhak memiliki keturunan yang lebih baik.
Oleh karena itu, ia mencoba mengakomodasi keinginan para anggota untuk mendonorkan gen ketampanan dan kecantikan bagi yang merasa membutuhkan.
"Sifat manusia adalah ingin bersama orang yang menurutnya menarik, dan memiliki keturunan dengan mereka. Kami hanya mengakomodasi keinginan para pendonor dan siapapun yang menginginkan bayi impian," ungkap Hintze seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (23/6/2010).
Terobosan ini tentu saja memancing kontroversi di berbagai kalangan. Juru bicara kelompok pengamat genetika Human Genetic Alert, David King menilainya sebagai upaya untuk mengagung-agungkan penampilan, dan bukan merupakan tren yang baik untuk diikuti.
"Ini menunjukkan kecenderungan yang berbahaya dalam masyarakat, yakni memilih-milih keturunan (eugenic). Dampaknya jika ini dibiarkan, saya pikir akan sangat berbahaya," ungkap King.
Sementara sikap lebih terbuka disampaikan oleh direktur media dari pusat genetika The London Bridge Fertility, Dr Mohamed Menabawey. Ia mengaitkannya dengan kelangkaan donor sperma dan sel telur yang terjadi di Inggris akhir-akhir ini.
"Kebijakan untuk menghapus anonimitas (menghilangkan identitas) donor telah memicu kelangkaan donor yang serius. Biaya yang mahal dan prosedur yang membingungkan menunjukkan gagalnya kebijakan tersebut. Inilah yang meyebabkan donor makin langka, dan bisnis kesuburan makin tumbuh," ungkap Menabawey, seperti dikutip dari CRWEnews, Rabu (23/6/2010).
Sejak didirikan pada tahun 2002, situs BeautifulPeople.com memang selalu memicu kontroversi dengan menerapkan kriteria keanggotaan yang cukup ketat. Pada musim dingin yang lalu, situs tersebut mencoret 5.000 anggota hanya karena berat badannya bertambah selama liburan.(health.detik.com)
Sperma dan Sel Telur Agar Anak Berwajah Rupawan Bisa Dipesan
'Sindrom Sangkar Kosong', Saat Anak Meninggalkan Rumah
'Sindrom Sangkar Kosong', Saat Anak Meninggalkan Rumah - Saat seorang anak harus meninggalkan rumah untuk kuliah atau menikah, sang ibu terkadang mengalami kesedihan yang mendalam. Kondisi ini dikenal dengan istilah empty-nest syndrome.
Empty-nest syndrome adalah istilah yang diberikan terhadap kondisi psikologis tertentu yang bisa mempengaruhi seorang perempuan ketika anak-anaknya mulai meninggalkan rumah.
Sindrom ini merujuk pada perasaan depresi, sedih atau kesedihan yang dialami oleh orangtua ketika anak-anak yang diasuhnya sudah beranjak dewasa dan akan meninggalkan rumah.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak akan memasuki kuliah atau menikah. Sindrom ini lebih memungkinkan terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Meski demikian bukan berarti kaum laki-laki tidak mengalami hal ini, perasaan ini bisa saja muncul tapi tidak separah pada kaum perempuan. Kemungkinan perempuan lebih sering mengalami karena dipengaruhi juga oleh faktor menopause.
Jika seorang ibu merasa sedih ketika anaknya harus meninggalkan rumah adalah suatu kondisi yang wajar atau normal. Terkadang ada ibu yang sampai menangis di kamar anaknya agar bisa merasa lebih dekat.
Seperti dikutip dari Netdoctor.co.uk, Kamis (1/7/2010) jika gejala yang muncul bertambah parah terutama kalau sudah lebih dari seminggu, sebaiknya segera konsultasikan dengan ahlinya.
Empty-nest Syndrome biasanya disertai dengan beberapa gejala:
- Merasa dirinya sudah tidak bermanfaat lagi dan hidupnya telah berakhir.
- Menangis secara berlebihan.
- Merasa begitu sedih sehingga tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya atau bekerja kembali.
Dalam situasi tertekan yang serius, seseorang membutuhkan bantuan untuk mengobati kondisinya seperti:
1. Cobalah untuk mulai membicarakan mengenai kesedihan yang dialami. Jika kesedihan yang dialami sudah mendalam, ada kemungkinan membutuhkan obat antidepresan.
2. Dukungan dari orang-orang disekitarnya serta teman-teman terdekat juga sangat membantu seseorang merasa lebih baik.
3. Menjalani kembali kegiatan hobi yang bisa membuat seseorang tidak terlalu terfokus pada anaknya.
4. Buatlah rencana liburan keluarga dan menikmati pembicaraan yang panjang serta mulailah untuk memberikan anak privasi yang lebih.